Aku bermimpi tentang suatu kisah. Bisa dibilang kisah perempuan malang.
Sebut saja perempuan itu si Kuning. Kuning kehidupannya berbeda dengan orang kebanyakan.
Biasanya, orang memakai siang itu untuk beraktifitas dan malam untuk istirahatnya. Tetapi sebaliknya dengan Kuning. Malam untuk beraktifitas dan siang untuk merebahkan tubuhnya.
Sejak kecil ia seperti ini kehidupannya. Tak tahu kenapa jika siang ia selalu mengantuk seperti keadaan orang di malam hari yang butuh tidur. Dan jika sudah malam ia mencoba untuk tidur tetapi tidak bisa. jalan satu-satunya saat itu ia menjalani aktifitasnya dengan waktu yang terbalik.
Berbeda dengan keluarganya. Hidup mereka normal.
Sudah biasa Kuning sendirian belajar dan bermain. Saat belajar ia tidak punya guru ataupun pengajar. Ia mendapatkan ilmu dari kecil hanya dari buku saudara kembarnya. Kita sebut saja Jingga. Jingga yang bersekolah di siang hari, dan Kuning yang belajar sendiri di malam hari. Hanya punya waktu maksimal 3 jam si Kuning bisa berkomunikasi dengan keluarganya.
Jika sudah malam, si Kuningpun belajar. Setelah ia belajar, ia bermain sendiri diluar. Hanya bertemankan dengan sepedanya dan berkeliling untuk menghilangkan rasa suntuknya dirumah.
Terkadang ia mampir di tempat cafe yang buka 24 jam. Dan yang ia dapat hanya anak laki-laki sepantaran dia yang sedang asyik berkumpul dan orang-orang yang baru pulang kerja. Inilah setiap hari yang Kuning lakukan.
Hingga ia menemukan satu titik jenuh. Dimana ia stres dan ingin cepat-cepat sembuh dari penyakit langkanya ini. Yang sudah 8 tahun meminum obat-obat yang disarankan oleh dokter dan belum ada perubahan. Ia ingin seperti keluarganya yang normal, orang-orang yang normal, menjalankan kehidupannya dengan baik dan mempunyai banyak teman. Dan berbeda dengan Kuning.
Dimalam hari, di sudut kamarnya, Kuning meminum semua obat-obatnya dan... overdosis.
Kuning dilarikan ke rumah sakit. Koma beberapa hari. Lalu sadar dan sudah dibolehkan untuk pulang.
Semenjak pulang dari rumah sakit, Kuning jadi sering merasa pusing. Pusing yang sangat menyakitkan hingga mata menjadi rabun dan sampai mengeluarkan darah dari hidungnya.
Tanpa diketahui oleh keluarganya. Kuning hanya merasakan sakit sendiri tanpa ada orang satupun yang tahu akan penyakit barunya. Kuning tidak ingin menambahkan beban ke keluarganya. Karena dengan penyakit langkanya yang pertama saja Kuning merasa sangat merepotkan hidup keluarganya.
Suatu saat, Kuning pergi ke cafe langganannya hanya untuk lari dari kesuntukan dan kesunyian.
Saat ia memesan kopi dengan pelayan yang berdiri didepannya, Kuning merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia merasakan pusing yang sangat sakit sekali, pandangan matanya rabun, dan ia meraba dibawah hidungnya keluar tetesan darah. Dengan refleks, ia memegang tangan pelayan itu sekuat tenaga sambil menahan rasa sakit kepalanya. Si pelayan kita sebut saja Biru. Biru yang merasa kaget, takut dan sekaligus heran dengan si perempuan yang hanya menunduk dan memegang tangannya dengan keras.
Birupun duduk lalu menanyakan apa yang terjadi dengan perempuan itu. Kuning hanya berkata "sudah diam saja dan tenang. aku baik-baik saja."
Sudah jam 3 pagi. Menit ke menit Biru menunggu, Kuningpun mengangkat kepalanya lalu membasuh darah dihidungnya itu dengan jemarinya. "Aku gajadi pesan kopimu. Maaf ya." Setelah itu Kuning langsung pergi dengan jalan yang sedikit sempoyongan.
Tanpa Kuning sadari, Biru mengikuti Kuning dari belakang hingga sampai di depan rumah Kuning.
Tak ada sepatah katapun yang tercoreng dari mulut Biru. Biru hanya memperhatikan Kuning dari jarak kira-kira 10 langkah kaki. Setelah dilihat Kuning masuk rumah, Birupun kembali ke cafe.
Besoknya pada malam hari, Kuning kembali ke cafe itu untuk meminta maaf ke si pelayan kemaren.
Sudah meminta maaf, lalu merembet dengan berkenalan, mengobrol.
Dan setelah sekian lama Kuning menantikan seorang teman dalam kehidupan malamnya, akhirnya datang juga. "Blue, your my first friend. Will you accept me to make your friend?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar